Posts

Showing posts from March, 2022

SESAK

  Penuh. Sesak. Aku kesusahan mengambil udara.  Ada apa ini? Aku terbiasa kuat. Ada apa ini? Seperti terbentur, aku merasakan nyeri yang teramat. Ada apa ini? Aku terbiasa tersenyum. Ada apa ini? Mataku menggembung sebenar-benarnya. Air mata tak bisa keluar! Oh, ini tidak biasa. Di depanku terbentang kawat berduri yang sudah melilit ujung kaki. Tapi mengapa dada ini yang perih? Kenapa tidak menangis? Kenapa aku tertawa? Ada dia yang berdiri di ujung sana. Tak melakukan apa-apa. Dia bersedih melihatku. Aku malah semakin tertawa. Tawa ini tak mau sudah. xx Lune22

Is There A Spell That I Am Under?

Aku teringat Incubus pernah bilang begini, Is there a spell that i am under Keeping me from seeing the real thing? Love hurts But sometimes it's a good hurt. Nampaknya Brandon Boyd fasih menafsirkan kesakitan. Rasional sekali. Bisa terjadi pada siapa saja, termasuk aku. Dulu aku mengucapkan selamat datang kepada orang-orang yang mencintaiku. Tapi seiring waktu, tampaknya aku lebih mencintai diriku sendiri. Karena jujur saja, yang mereka lakukan tidak akan pernah sebanding dengan apa yang kulakukan. Kata mereka, tidak sepantasnya aku meminta timbal balik. Kalian saja yang tidak pantas mednapatkanku, hehe.... xx Lune22

Sang Penyintas

  Seperti kebanyakan orang, aku tidak pernah tahu bentuk cinta. Tapi di kepalaku, cinta berwujud melalui tatapan hangat, suara lembut, dan interaksi intim. Seperti apa intimnya? Tidak tahu. Entah dari mana datangnya, kepalaku dipenuhi kelima huruf ini. Menyesakkan. Padahal seharusnya tidak begitu 'kan? Tiba-tiba saja. Tiba-tiba saja akan kuceritakan satu kisah pendek yang tidak menarik. Siang bolong terik, seorang penyintas datang menawarkan cinta. "Hah? Apa ini?", kataku. "Mau mencoba tidak?", suara lembutnya memanjakan telingaku. "Apa perlu kucoba? Aku rasa tidak." "Tak apa. Sedikit juga sudah cukup", suara lembutnya kembali menyihirku. "Baiklah. Sedikit.", jawabku yang tidak bisa mengalihkan tatapan hangatnya. Dia kemudian menuangkan sedikit cinta itu ke dalam gelas bening. Aku bisa melihat jernihnya. Lalu kuraih gelas tersebut. glek glek glek , suaraku menelan cinta. Aku tersenyum lebar. Sambutanku menjadi hangat ketika melihatn...