Sang Penyintas
Siang bolong terik, seorang penyintas datang menawarkan cinta.
"Hah? Apa ini?", kataku.
"Mau mencoba tidak?", suara lembutnya memanjakan telingaku.
"Apa perlu kucoba? Aku rasa tidak."
"Tak apa. Sedikit juga sudah cukup", suara lembutnya kembali menyihirku.
"Baiklah. Sedikit.", jawabku yang tidak bisa mengalihkan tatapan hangatnya.
Dia kemudian menuangkan sedikit cinta itu ke dalam gelas bening. Aku bisa melihat jernihnya. Lalu kuraih gelas tersebut. glek glek glek, suaraku menelan cinta. Aku tersenyum lebar.
Sambutanku menjadi hangat ketika melihatnya datang kembali di akhir minggu. Apa yang dia bawa kali ini, pikirku. "Hari ini aku juga membawakanmu sedikit roti yang sudah ku oleskan mentega. Harum bukan?" Aku mengangguk. Minggu demi minggu sang penyintas selalu menemuiku walau hanya untuk memainkan ujung rambutku. Gelas demi gelas selalu bertambah isinya setiap dia berkunjung. Kini, aku sudah bisa menghabiskan satu gelas penuh!
Namun seperti pada kisah cinta umumnya, kehadiran malapetaka diperlukan sebagai pengingat.
Sang penyintas sudah tidak lagi datang sesering kemarin. Kuputuskan untuk mencarinya. Ketemu. Aku menghampirinya. "Tidak membawakanku permen lagi?", tanyaku pelan. "Kau sudah tau rasanya", jawabnya. Aku mencoba kalimat lain. "Aku haus."
"Gelasnya sudah terisi penuh. Kau bisa ambil sendiri", jelasnya. Aku bergerak mengambil gelas dan meminumnya sampai habis. Tanpa kata. Begitu juga sang penyintas.
"Aku sebaiknya pulang", kataku. "Angin sedang kencang-kencangnya. Rapatkan mantelmu."
Dingin. Ya, angin berhembus dingin sekali. Tapi, bukan angin yang membuatku menangis.
xx
Lune22
Comments
Post a Comment